Pagi ini ada pemandangan yang tidak biasa di gerbong commuter line yang aku tumpangi. Selain dari gerbong yang masih lengang, juga karena ada sepasang kekasih. Yang membuat aneh adalah sepasang kekasih itu berbeda negara, si wanita merupakan orang indonesia sementara si pria tebakanku dari inggris atau amerika.
Dari awal mereka duduk, aku mendengar pasangan ini tidak berhenti mengobrol. Mereka membahas tentang apapun termasuk hal yang sedang terjadi, yang menurutku tidak penting, di depan mereka. Tidak ada obrolan menyombongkan sesuatu, tidak ada obrolan menjelekkan seseorang bahkan tidak ada obrolan yang penting menurutku.
Tiba-tiba aku teringat suatu hal, di TV cable maupun youtube aku sering melihat seorang ayah yang berlaku seperti itu, nyerocos aja ngomong sama anaknya seakan ia ngobrol dengan seseorang yang mengerti apa yang ia bicarakan. Si anak tidak diposisikan sebagai sebuah benda rewel yang hanya menambah beban orang tua. Tidak heran ketika aku melihat acara masterchef junior us dan membandingkannya dengan masterchef junior indonesia, terlihat jelas perbedaan anak-anaknya. Perbedaan gesture, kata-kata yang keluar hingga perilaku anak-anak tersebut. Semoga aku bisa menjadi Papa yang hebat untuk anakku.
Hal aneh lain yang aku lihat dari pasangan indo bule tadi adalah mereka berdua lebih memilih berdiri dan mempersilahkan bapak tua untuk duduk. Biasanya aku melihat salah satu dari pasangan yang berdiri sementara si wanita tetap duduk. Berdiri sudah diasosiasikan dengan capek oleh mayoritas orang indonesia, padahal asosiasi itu sendiri sebenarnya yang bikin otak kita merasa capek.
Tidak jarang ketika di bandara atau tempat wisata, aku melihat wanita bule membawa lebih dari satu tas besar dan tetap jalan dengan gagah. Mereka pun lebih senang kesana kemari dengan jalan kaki dibanding naik ojek. Tuhan menciptakan tubuh manusia itu secara sempurna, dan hanya akan mengeluarkan kemampuan sesuai kebutuhannya. Optimalkan kemampuan tubuh dan otak dengan tidak mengasosiasikan sesuatu dengan hal yang negatif seperti melelahkan, capek, membosankan dll.
Thursday, April 2, 2015
Wednesday, April 1, 2015
Istriku Bidadariku
Pagi ini hariku dimulai dengan cara yang salah, aku membuka mata dengan rasa kesal dihatiku. Kesal karena semalam aku gagal "kelonan" (baca: berhubungan badan) dengan istriku. Bukan gagalnya sebenarnya yang membuatku kesal, karena penyebab gagalnya adalah anakku yang tiba-tiba menangis saat ia sedang tidur, namun karena setelah istriku selesai menidurkan anakku lagi dia malah nonton tv dan menyuruhku tidur... wtf!!!
Di kereta dalam perjalanan ke kantor aku merenung, kenapa aku harus kesal sama istriku? lagi-lagi karena aku kalah sama egoku sendiri. Setiap hari istriku bangun jam 1/2 5 pagi, cuci baju, siapin sarapan, beresin rumah, mandiin anak kami lalu jam 7 harus sudah sampai di kantornya. Di kantornya ia sering bekerja di lapangan, ditemani terik matahari, asap knalpot dan picingan mata dari orang-orang di tempat yang didatanginya.
Disela kesibukan kerjaan kantornya ia masih harus menyempatkan diri untuk pumping ASI anak kami. Kadang jika aku menyelesaikan pekerjaan kantorku dirumah, ia masih harus membereskan rumah ketika pulang kerja. Lalu jam 5 kami akan menjemput anak kami dirumah mamah yang tidak terlalu jauh dari rumah kami, sampai akhirnya anak kami tidur sekitar jam 8.
Bodohnya aku, dari itu aja udah keliatan bahwa istriku ga punya waktu untuk ME time. Dulu semasa gadis ia sering ke salon sebagai aktivitas ME time, namun setelah menikah bisa dibilang ia tidak pernah lagi memikirkan dirinya. Semalam mungkin otaknya sedang jenuh dengan semua rutinitas hariannya, dan ia hanya menginginkan ME time-nya dengan menonton TV.
Saat menulis ini seperti ada lonjakan hormon ditubuhku, senyumku mengembang. Terima kasih ya Allah telah mengirimkan ia sebagai istriku...
Di kereta dalam perjalanan ke kantor aku merenung, kenapa aku harus kesal sama istriku? lagi-lagi karena aku kalah sama egoku sendiri. Setiap hari istriku bangun jam 1/2 5 pagi, cuci baju, siapin sarapan, beresin rumah, mandiin anak kami lalu jam 7 harus sudah sampai di kantornya. Di kantornya ia sering bekerja di lapangan, ditemani terik matahari, asap knalpot dan picingan mata dari orang-orang di tempat yang didatanginya.
Disela kesibukan kerjaan kantornya ia masih harus menyempatkan diri untuk pumping ASI anak kami. Kadang jika aku menyelesaikan pekerjaan kantorku dirumah, ia masih harus membereskan rumah ketika pulang kerja. Lalu jam 5 kami akan menjemput anak kami dirumah mamah yang tidak terlalu jauh dari rumah kami, sampai akhirnya anak kami tidur sekitar jam 8.
Bodohnya aku, dari itu aja udah keliatan bahwa istriku ga punya waktu untuk ME time. Dulu semasa gadis ia sering ke salon sebagai aktivitas ME time, namun setelah menikah bisa dibilang ia tidak pernah lagi memikirkan dirinya. Semalam mungkin otaknya sedang jenuh dengan semua rutinitas hariannya, dan ia hanya menginginkan ME time-nya dengan menonton TV.
Saat menulis ini seperti ada lonjakan hormon ditubuhku, senyumku mengembang. Terima kasih ya Allah telah mengirimkan ia sebagai istriku...
Subscribe to:
Posts (Atom)